Showing posts with label kisah. Show all posts
Showing posts with label kisah. Show all posts

Demo (1)


"Saudara-saudara, ini adalah bentuk kesewang-wenangan. Tak boleh kita diamkan. Ini adalah pelecehan pada wanita. Setiap jenis pelecehan pada wanita sekecil apapun tidak bisa ditolerir. Jika dibiarkan maka itu akan menjadi kebiasaan. Dan jika dibiasakan maka akan terjadi pelecehan yang lebih besar. Kita harus protes. Sebagai wanita kita harus lawan kesewenangan itu. Kita harus demo." berapi-api wanita itu berorasi di depan beberapa wanita. Dia sedang mengobarkan semangat para wanita itu untuk tergerak melawan kesewenangan.

"Bagaimana kalau kita gelar demo melawan kesewenangan ini. Setujuuu??"
"Setujuuuuu....."
"Baik. Kalau setuju, kabarkan pada para wanita di RW kita bahwa kita akan berdemo. Kita akan geruduk kantor kelurahan. Kita akan minta ketegasan Pak Lurah agar mencopot Pak RW yang telah mencoreng nama baik RW kita."

Flashback ke beberapa hari sebelumnya. Suatu pagi sekitar jam 10 pagi, bu Jumilah mendengar suara aneh dari dalam rumah Pak RW yang kebetulan bersebelahan dengan rumahnya. Semakin didengar semakin jelas bahwa itu suara seorang wanita sedang muntah.

"Kok seperti muntahnya orang lagi hamil muda." bu Jumilah berspekulasi. "Jangan-jangan pembantu Pak RW hamil. Terus siapa yang menghamili?" hatinya bertanya penuh curiga. "Pasti ini perbuatan Pak RW. Bukankah Pak RW itu duda?" akhirnya dia ambil kesimpulan.

Lalu tanpa konfirmasi, bu Jumilah mulai bisik-bisik dengan para ibu lain. Seperti biasa, selalu ada bumbu dalam setiap rumpian wanita. Beritapun menyebar dengan begitu cepat dan liar. Terlebih lagi ketika beberapa hari kemudian pembantu pak RW itu dipulangkan ke desa. Lagi-lagi bu Jumilahlah yang menjadi penyebar berita.

Karena beberapa hari tak pernah melihat si pembantu, bu Jumilah bertanya:
"Pak RW, sudah beberapa hari ini saya tidak melihat pembantu bapak. Kemana dia pak?" tanya bu Jumilah penuh selidik.
"Sudah saya pulangkan ke orang tuanya di desa." jawab Pak RW tanpa curiga.

Berita yang tersebar lewat mulut bu Jumilah begitu bombastis dan bikin heboh. Kabar yang tersebar bagai sebuah headline yang berbunyi: PAK RW MEMULANGKAN PEMBANTU YANG TELAH DIHAMILINYA.

Lalu ketika berita ini sampai ke telinga Juminten, sang ratu protes tingkat RW, segera saja dia kumpulkan beberapa wanita untuk melakukan demo. Misi demo: Pak RW harus diperiksa secara hukum. Jika terbukti Pak RW melakukan pelecehan, maka dia harus dilengserkan.

Juminten tersenyum menyeringai. Terbayang di pikirannya bahwa tak lama suaminya yang sekarang menjabat sebagai sekretaris RW akan menjadi Ketua RW jika Pak RW berhasil dilengserkan.

Terus selanjutnya gimana?
Tunggu besok ya.



Story by GalihM  (19/11/16)
Read more

Please Don't Cry Juminten

Aku melihat Juminten sedang bersedih. Mata sembab, hidung meler, rambut awut-awut.

"Kenapa kamu Jum?" tanyaku.
"Gapapa kok." jawab Juminten pelan.
"Kalau gapapa ngapain kamu nangis?"
"Bener gapapa kok."
"Please dong Jum. Kamu tahu siapa aku. Kita telah berjanji menjadi sahabat sejati. Kita sepakat untuk saling curhat. Masihkah kamu ragu untuk ceritakan padaku masalah yang sedang menimpamu?"


Tangis Juminten meledak.
"Ada apa Jum?"
"Kamu yakin bisa terima curhatku?" tanya Juminten sambil terisak.
"Ya bisalah Jum. Kan aku sudah terbiasa menerima curhatmu?"
"Tapi kali ini lain. Sesuatu membuatku takut. Dan rasa takut itu yang membuatku menangis."
"Emang apa yang kamu takutkan?"
"Aku takut...."
"Takut apa Jum?"
"Aku takut kehilangan kamu."
"Maksud kamu?"
"Aku harus jujur padamu. Setelah sekian lama kita berteman aku baru menyadari bahwa perasaan cinta itu mulai tumbuh di hatiku. Itulah sebabnya aku takut kehilangan kamu."

"Tapi Jum...."
"Kamu gak mau?"
"Bukan gak mau Jum. Kamu pasti ingat. Di awal kita kenal, kamu bilang bahwa kita hanya berteman. Dalam banyak kesempatan kamu juga sering mengingatkan bahwa kita hanya berteman. Jujur, di hatikupun telah tumbuh rasa suka kepadamu. Tapi rasa suka itu aku pupus karena aku tak ingin kecewa. Aku selalu ingat kalimatmu bahwa kita hanya berteman."
"Tapi sekarang aku telah jilat ludahku sendiri. Perasaan 'hanya berteman' telah berubah menjadi perasaan cinta."
"Maafkan aku Jum."
"Maksudmu?"
"Aku bukan tak mau menerima perasaan cintamu padaku. Aku tak bisa."
"Kenapa?"
"Sudah seminggu ini aku jadian dengan temanmu Jumiatun."

Plak. Pipi Juminten bagai ditampar. Huaaaa huaaaa huaaaa tangisnya semakin kenceng.




story by GalihM
Read more

Gara-gara Vegetarian

Suatu hal yang aneh bila sepasang suami istri yang baru menikah selama 1 minggu akhirnya memutuskan untuk bercerai. Dan anehnya lagi mereka sepakat bercerai setelah mereka menyelesaikan honey moon di pulau dewata.

Sebagaimana lazimnya penganten baru, mereka memanfaatkan setiap waktu yang ada untuk memadu kasih. Dan dalam memadu kasih itu mereka ingin melakukan segala cara sebagaimana yang lazim dilakukan suami istri. Sang istri, misalnya, ingin agar suaminya mempermainkan buah dadanya dengan mulutnya. Sayangnya, setiap kali dia sodorkan buah dadanya, sang suami menolak.


"Kenapa nggak mau?"
"Saya vegetarian dan saya pantang makan daging walau sekedar ngemut."

Sang istri merasa geram. Dia ingin banget suaminya mau melakukan untuknya. Tapi sang suami juga tak kalah geram. Kenapa? Setiap kali dia menyodorkan alat vitalnya ke mulut sang istri, istrinya tak mau melakukannya padahal sebagai suami dia sangat ingin sang istri mau melakukannya.

"Kenapa nggak mau?"
"Saya juga seorang vegetarian dan saya berpantang makan daging walau sekedar ngemut."

Setelah setiap hari mereka tak bisa tuntaskan memadu kasih karena masing-masing merada geram dan berujung pada pertengkaran, mereka akhirnya sepakat bercerai (GalihM).



story  by GalihM
Read more

Parmin Ngeres

Sesampai di rumah Paijo marah campur sedih demi dilihatnya daster sang istri masih tergantung di tali jemuran dalam keadaan basah kuyup karena kehujanan. Lebih sedih lagi ketika dilihatnya burung murai batu kesayangannya sudah terbujur kaku. Mati. Hujan deras sepanjang siang hingga sore membuat burung murai batu yang dia gantangkan di ranting pohon jambu sejak pagi itu mati kedinginan. Semakin sedih hatinya ketika melihat sang istri masih tergolek lemas di atas tempat tidurnya. Istri Paijo memang sedang sakit dan harus bed rest selama beberapa hari.


Namun segala kesedihanya tiba-tiba buyar ketika dia melihat Parmin -sang tukang kebon- sedang duduk santai sambil merokok. Parmin seolah tak ber empati pada kesedihan sang majikan.

"Parmiiiinnn....." teriak Paijo.
Parmin mendekat. "Ya tuan. Ada apa?"
"Dasar orang bodoh kamu!"
"Emang kenapa tuan?"
"Kenapa kamu biarkan murai batu kesayanganku kehujanan hingga mati kaku?"
"Maaf tuan. Saya tidak tahu burung itu digantang di luar."
"Tidak tahu? Bukankah aku sudah suruh kamu masukin burung itu dan kamu menjawab iya?"
"Maaf tuan. Seingat saya tuan tidak memberi perintah seperti itu."

Paijo semakin marah. Giginya gemeretakan menahan marah.

"Bukankah tadi aku sudah telpon kamu: Min, kalau nanti hujan angkat daster nyonya dan masukin burungnya. Kamu inget kan aku omong gitu? Dan kamu inget kan kamu jawab iya tuan."
"Oh itu toh tuan. Itu saya ingat tuan."
"Lalu kenapa daster nyonya tak kamu angkat dan kamu biarkan burung itu tetap di luar?"
"Oh itu sudah saya laksanakan dan saya mengira tuan salah memberi perintah."
"Maksud kamu?"
"Begini tuan. Waktu hujan turun saya bergegas melihat nyonya di tempat tidur. Maksud saya ingin mengangkat daster nyonya. Tapi ternyata nyonya gak pake daster. Nyonya pake celana jean. Jadi saya anggap tuan salah kasih perintah. Tidak mungkin kan jean nyonya saya angkat trus saya masukin burung saya?"

Kemarahan Paijo makin meluap bagai banjir bandang.

"Dasar kamu otak ngeres. Maksud perintahku kamu angkat daster nyonya yang lagi dijemur trus kamu masukan burung murai batu itu ke dalam rumah supaya tidak kehujanan."

Usai berkata seperti itu Paijo memukul Parmin. Sebuah pukulan tepat di pelung hati. Tak dinyana, pukulan itu membuat Parmin menggelepar. Persis seperti ikan diangkat dari air. Paijo kalut dan bingung tak tahu harus berbuat apa.



Story by GalihM
Read more

From Facebook With Love


Cinta merebak dimana-mana. Ada cinta yang menciptakan galau, amarah, kecewa, sakit hati, dan air mata. Ada cinta yang menimbulkan bahagia, suka cita, keceriaan, keindahan, dan kerlap kerlip cahaya. Namun ada pula cinta yang tidak menimbulkan efek sama sekali. Cinta yang nothing to loose.

Berbagai macam cinta hadir di fesbuk. Entahlah hubungan sebab akibat mana yang lebih mendekati benar: fesbuk menumbuh kembangkan cinta ataukah cinta menemukan tempat untuk tumbuh di fesbuk. Faktanya, cinta di fesbuk itu bagai cendawan di musim hujan atau like flowers in the spring.

Juminten adalah satu dari ribuan wanita yang terlibat cinta fesbuk. Segala macam keindahan cinta dia temukan disini. Keindahan yang telah lama hilang dari kehidupan sebenarnya di dunia nyata. Dia menemukan sosok lelaki yang begitu care, penuh perhatian, dewasa dan mau melakukan hal-hal yang membuatnya bahagia. Jika dibandingkan dengan suaminya, maka seperti membandingkan bumi dan langit. Suami Juminten di dunia nyata adalah tipe lelaki yang cuek, temperamental, ngeyelan dan menjengkelkan.

"Paijo jauh lebih banyak mempunyai nilai plus dibandingkan Sastro" gumam Juminten.

Kisah cinta Juminten dan Paijo di dumay bermula ketika mereka saling kenalan di fesbuk. Mereka tidak saling rempong tentang realitas kehidupan mereka di dunia nyata. Komitmen mereka: meraih bahagia di dumay sebagai pelampiasan kepenatan hidup di dunia nyata.

Hingga kini Juminten tidak tahu bahwa kekasih dumay yang dia kenal bernama Paijo sebenarnya adalah seorang lelaki dunia nyata bernama Sastro. Di lain pihak, Paijo juga tidak tahu bahwa wanita dumay bernama Juminten sebenarnya adalah seorang wanita dunia nyata bernama Siti.

From facebook with love. Kadang ada cinta yang rumit di fesbuk. Di dunia nyata Sastro dan Siti adalah pasangan suami istri yang sudah dikaruniai 3 anak.





story  by GalihM   (18/11/16)
Read more

Hikmah Kebaikan: Kisah Seorang Nenek dan Seekor Ular

Ini adalah sebuah kisah dari Kalimantan Tengah. Diceritakan jaman dahulu, Seorang nenek dari suku Dayak menemukan seekor ular sebesar jari kelingking, singat cerita kemudian beliau bawa ular tersebut kerumah beliau, layaknya dierlakukan seperti manusia, ular tersebut di kasih makan dan di ijinkan tinggal di rumah nenek tersebut.
Setelah beberapa tahun lamanya ular yang hidup di rumah nenek tersebut kian hari tumbuh kian besar, nenek tersebut pun mulai kebingungan, karna bahkan baskom pun sudah tidak muat lagi untuk menampung ular tersebut. Akhirnya nenek tersebutpun dengan berat hati berkata “wahai engkau sang ular, aku sudah tidak berdaya lagi menampung engkau tinggal disini, karna tubuh mu kian hari kian membesar, dan engkau pun mungkin mengerti dengan keadaan ku yang semakin tua ini”. Akhirnya di lepas lah oleh beliau ular tersebut di sebuah sungai terdekat dengan rumah nenek tersebut.
Hari kian berganti bulan, bulan berganti tahun. Lama kelamaan, Sampailah pada suatu ketika tanpa disengaja, ketika nenek berjalan di pinggir sungai beliau bertemu ular yang begitu besar, tanpa rasa takut dengan insting kasih sayang dian miliki, akhirnya dia menyadari bahwa ular tersebut adalah ular yang pernah dia pelihara dirumah beliau.
Nenek pun bingung apa gerangan maksud dari kedatangan ular tersebut sehingga menampakan diri di hadapan beliau, kemudian ular tersebut memuntahkan sbuah benda sebesar bantal guling dihadapan nenek tersebut, nenek tersebut kagum melihat benda tesebut adalah sebuah emas batangan sebesar bantal guling. Setelah itu ular itu pun meninggalkan nenek tersebut kembali kesugai, dan nenek tersebut dengan perasaan yang masih campur aduk membawa pulang emas yang baru didapat beliau dari ular tersebut.
Singkat cerita salah seorang anak dari nenek tersebut mengetahui keberadaan emas tersebut, dia adalah anak yang pemalas dan nakal. Anak tersebut hanya bergantung pada emas tersebut menjadikan dia malas untuk bekerja. Ketika dia memerlukan uang dia ambil sedikit demi sedikit emas tersebut sepotong demi sepotong. Lama kelamaan nenek itu pun mulai geram, beliau berfikir jika begini terus anak itu akan menjadi anak yang malas selamanya dan mungkin anak dan cucu-cucu beliau yang lain tidak akan merasakan harta warisan beliau kelak.
Maka Nenek pun berinisiatif untuk mengubur emas itu, tanpa sepengetahuan anak-anak beliau, beliau bawa emas tersebut ketepi sungai dimana ketika beliau bertemu dengan ular waktu dulu, kemudian dia gali lubang dan beliau kubur emas tersebut, setelah itu dia berpesan kepada ular tersebut untuk menjaga emas tersebut agar tidak bisa ditemukan dari orang-orang yang tidak beliau kehendaki. Lalu beliau tutup kembali lubang tersebut dan beliau kasih tanda sebuah pohon keminting diatas nya.
Hikmah yang dapat kita petik:
  1. Teruslah berbuat baik kepada sesama mahluk Tuhan, terlebih kepada sesame manusia, jangan  memandang siapa dia, ingat kebaikan pasti akan dibalas dengan kebaikan, jika bukan manusia yang membalas maka tuhan akan membalasnya.
  2. Harta tidak selamanya mendatangkan kebaikan, harta bisa saja mendatangkan kerugian bahkan bencana. tidak sedikit orang celaka hanya karena harta yang dia miliki.
Oleh karena itu hendaknya kita selalu berbuat baik kepada siapa pun, karna di kehiduan ini kita tidak pernah tau kapan kesulitan akan menghampiri kita, bisa saja berkat pertolongan kita kepada orang lain di masa lalu kita jadi diselamatkan di masa mendatang. Sekian terima kasih atas kunjungan anda semoga artikel ini ada berkahnya dan semoga bermanfaat.
Read more